Generasi Muda diharapkan Lebih Memahami Soal HAM

Pemahaman dan kepedulian HAM anak muda penting untuk pembangunan.

Salah satu rangkaian acara dalam Festival HAM 2019 digelar di alun-alun Jember dengan tajuk Warung HAM. Warung HAM ditujukan sebagai ruang untuk generasi muda terlibat dan lebih memahami masalah-masalah melalui dialog yang diselenggarakan panitia. Dalam dialog berlangsung diskusi tentang isu-isu HAM baik dalam konteks sosial politik mau pun ekonomi yang melibatkan anak muda.

Read More

Pemerintah Pusat dan Daerah Diminta Berpedoman HAM dalam Jalankan Pembangunan

Pembangunan infrastruktur jadi salah satu prioritas Pemerintahan Presiden Joko Widodo, mulai jalan tol, bandara, pelabuhan laut, udara, dan lain-lain. Meskipun infrastruktur niatnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi, tetapi dalam pelaksanaan seringkali proyek-proyek ini abai pemenuhan hak asasi manusia (HAM). Tak jarang, proyek infrastruktur lekat dengan konflik agraria dan sumber daya alam. Dalam menjalankan pembangunan, pemerintah daerah di Indonesia, dinilai masih lemah dalam memperhatikan aspek HAM.

Read More

Direktur Eksekutif INFID : Festival HAM 2019 Di Kabupaten Jember Terasa Berbeda

Festival Hak Asasi Manusia (HAM) ke-VI yang digelar di Kabupaten Jember menyajikan hal berbeda dari pelaksanaan festival serupa sebelumnya. Ini diakui Direktur Eksekutif INFID, Sugeng Bahagijo, saat pembukaan festival ini di Aula PB Soedirman Pemkab Jember.

“Festival HAM Kali ini ada partisipasi rekan-rekan perusahaan atau dari dunia industri,” katanya menyebutkan salah satu perbedaan itu, Rabu (20/11/2019).

Read More

Festival HAM di Jember Usung Tema Peran Kebudayaan dalam Gapai Keadilan

Festival HAM 2019 digelar di Jember mulai hari ini hingga Kamis (21/11). Jember terpilih sebagai tuan rumah Festival HAM keenam karena dinilai memiliki kesungguhan yang kuat dalam upaya mengimplementasikan HAM.

“Jember diberi kesempatan menjadi tuan rumah Festival HAM untuk mengapresiasi spirit Jember dalam mengimplementasikan HAM,” kata Bupati Jember dr Faida menjelang pembukaan Festival HAM, Selasa (19/11/2019).

Read More

Peserta Festival HAM 2019 Disuguhi Hiburan Tradisional

Berbagai gelaran hiburan tradisional mewarnai malam penutupan Festival Hak Asasi Manusia (HAM) 2019 di Kabupaten Jember Rabu (20/11) bertempat di depan Kantor Pemkab Jember.

Berbagai kesenian tradisional seperti musik kendang patrol dan tari Remo dari Kecamatan Wuluhan mewarnai acara tersebut.
Hadirnya sajian kesenian itu mampu menghilangkan kepenatan para peserta Festival HAM dari lima belas negara, maklumlah jadwal acara tersebut cukup padat sehingga menguras tenaga mereka.

Read More

Inisiatif Generasi Muda Penting Bagi Pemajuan Kota HAM

JEMBER-Festival HAM 2019 menyediakan forum untuk berbagi ide dan inisiatif  bagi anak muda berdiskusi isu-isu HAM, wadah itu bernama Warung HAM.

Pagelaran mini ini dilaksanakan di sudut Timur Alun-alun Kabupaten Jember pada tanggal 19 November 2019. Bernuansa outdoor, dengan beberapa band musik setempat dan berhasil mengundang empat narasumber masing-masing berasal dari lokal maupun nasional dalam sesi diskusi.

M Faisal dari Youth Lab sebuah lembaga yang bergelut dengan penelitian ekosistem anak muda yang hadir memantik diskusi malam itu mengatakan bahwa, setelah masuknya teknologi yang lebih canggih (khususnya sosial media), anak muda di Indonesia memiliki kecenderungan berkomunitas. Berbeda dengan anak muda di Negara lain yang cenderung belum memiliki progress seperti ini.

“Sebenernya itu satu kemajuan” tuturnya.

“Jadi kita melihat, setelah berkembangnya berbagai media sosial, semakin banyak tumbuh komunitas di lapisan masyarakat” papar Faisal lebih lanjut.

Kebebasan berkumpul bagi kelompok milenial khususnya dan masyarakat umum tumbuh dengan baik. “Ini bisa jadi penanda sebuah bentuk dari terlaksananya penegakan HAM di Indonesia.” Tegas Faisal.

Inisiatif baru berkat berkembangnya dunia informasi juga memunculkan kesadaran masyarakat untuk melihat masalah social di sekitarnya. Hal itu lalu menumbuhkan kesadaran kolektif untuk berkomuitas dan berbuat sesuatu yang nyata.

Haris Darmawan adalah contoh, ia bersimpati melihat fakta bahwa Jember menjadi peringkat pertama kota yang memiliki masyarakat dengan buta aksara tertinggi. Melihat hal itu Haris dan komunitasnya bergerak. Tahapan demi tahap untuk membangun kesadaran dan mengambil insitiaf dimulai. Sehingga akhirnya lahir Komunitas NusantaraYouth Care, komunitas lokal Jember yang bergelut pada lingkup muda dan Gerakan literasi.

Bagi Haris Darmawan, ide kesadaran akan HAM baginya tercetus dari sebuah pokok masalah, dilingkup sosia terdekat.

“Saya memanggil temen-temen muda, khususnya anak-anak muda di Kabupaten Jember ayo saya/kami/kita butuh tangan, kaki, dan pikiran kalian. Mari kita jangan melulu bermain ke tempat wisata, sesekali mainlah ke desa dengan landscape yang berbeda. dengan ini semoga kita dapat membangun Jember dari desa-desa” pungkas Haris dalam acara malam itu.

Sementara itu, Munfarizal Manan, dari Komnas HAM juga menyatakan hal senada. Ia menyampaikan bahwa sebetulnya Hak Asasi Manusia dapat dengan sederhana kita lihat di sekitar kita, bahkan dengan keadaan yang jauh lebih sederhana.

“Hak Asasi Manusia itu bukan sesuatu yang rumit, tinggi, mewah. Lantas sebtulnya Hak Asasi Manusia itu konteks keseharian, kehidupan orang itu sangat jelas sekali implementasinya. Nah ini peran-peran yang sepeti disebutkan tadi itu (red. Tumbuhnya berbagai komunitas muda/ berkembangnya kesadaran akan HAM) sebetulnya di kalangan anak muda kesaadaran akan Hak Asasi Manusia, dapat kita lihat beberapa waktu yang lalu itu sedang ramainya aksi demonstrasi. Demonstrasi itu kan salah satu hak untuk berkespresi. Disatu sisi saya melihat kalangan anak muda ini, dengan sudut pandang yang optimis bahwa masa depan tentang perlindunan, penegakan Hak Asasi Manusia akan terus bergenang.” ungkap pria yang kerap tampil aktif menjadi mediator dalam berbagai sengketa berbasis HAM tersebut.

Masih banyak insitif diperlukan dalam banyak dimensi pemenuhan Hak Asasi Manusia bagi warga. Dengan melihat masalah social budaya di lingkungan masyarakat terdekat, kesadaran dan informasi bisa mendorong lahirnya komunitas-komunitas baru yang mampu mendorong inisiatif pemenuhan hak asasi manusia bagi warga. Salah satunya adalah masalah hak reproduksi yang belum banyak dilihat oleh khususnya generasi muda.

Gustika Hatta selaku perwakilan dari Youth Advicer UN FFA, yang juga menjadi pembicara di forum malam itu, menyampaikan persoalan masih kurangnya pemahaman generasi muda mau pun masyarakat luas akan kesehatan reproduksi.

“Mungkin kita belum menyadari, bahwa hak lahir bersama kita. Jadi ada pandangan bahwa ada hak-hak asasi manusia itu diberi oleh Negara. Menurut saya itu saya kurang tepat, Ketika kita lahir kita sudah memiliki hak sebagai manusia, sedang kesadaran akan datang nanti. Nah disini termasuk pada kesadaran mengenai reproduksi. Disini kami mencoba mencari solusi dan mencoba memerangi kekurag tepatan suatu hal, sehingga Hak Asasi Manusia kurang dipandang.” Jelas Gustika, yang juga cucu dari Proklamator Kemerdekaan, Bung Hatta. (Alfaridza)

Tarian Bajul Ijo di Festival HAM Jember Pecahkan Rekor MURI

Tarian kolosal Bajul Ijo yang melibatkan sebanyak 5.273 peserta yang didampingi ribuan orang tua dan guru mengawali kegiatan Festival Hak Asasi Manusia (HAM) 2019 di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa. Tarian itu, memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri).

Tarian Bajul Ijo menceritakan tentang keceriaan dan kegembiraan anak-anak yang tersirat dalam makna lagu Bajul Ijo dengan pesan bahwa anak-anak tidak boleh nakal dan harus selalu rajin belajar, agar tidak seperti Bajul Ijo yang selalu bermalas-malasan setelah makan.

Read More